Postingan

Teka Teki Surat

Gambar
                                                          By :  Faradhila Khusna Ibrahim  Ada seorang anak perempuan bernama T ina.Dia baru saja pindah sekolah karena di sekolahnya yang dulu dia sering dibully. Keluarga tina berharap semoga T ina baik-baik saja bersama neneknya di desa. "Nek..aku merasa sedih di sekolah yang dulu, dan aku sangat takut untuk besok hari pertama di sekolah nek..."ujar T ina sambil menangis di pangkuan neneknya. "Tenanglah tina kamu besok pasti mendapat banyak teman" kata nenek sambil mengelus kepala tina. Hari masuk sekolah barunya pun tiba, dia merasa takut dan cemas.Saat dia memperkenalkan diri didepan kelas dia merasakan tidak enak dan sangat gugup.Setelah dia memperkenalkan diri dia langsung mencari tempat duduk yang kosong. Ada s...

Memaknai Hidayah dengan Secangkir Teh Hangat

Gambar
  By : Hanifah Tentang sebuah hidayah, yang ku tahu hidayah itu datang entah dari manapun dan kapan pun dan wujud dari hidayah itu sendiri   bermacam macam, seperti halnya yang sedikit ku bagi ke pada kalian tentang aku mekanai sebuah hidayah dari momen yang paling aku sukai. Saat duduk bersandar sambil menikmati secangkir teh hangat di pagi hari, dengan di temani senja matahari. Hmm nikmat dan menenangkan..... Lantas di mana letak hidayahnya? Ketika kita mencoba untuk menikmatinya degan rasa jatuh cinta kepada rabbnya pasti kita akan merasakan di mana letak hidayahnya. Ku coba untuk membongkarnya satu persatu, ketika kita bisa merasakan melihat betapa cantik dan indahnya senja matahari terbit, nah kita merasa nikmat. kita merasakan udarah yang sangat segar, nan menenangkan di pagi hari, dan itu nikmat. kita bisa duduk dengan menikmati secangkir teh hangat dan masih bisa membuka mata untuk menikati setiap moment dipagi hari. masih bisa bernafas untuk menikmati segarnya...

LULUH

Gambar
  By : A'idah Nada Nabilah dan Aulya Hasita Hai, namaku Stela dan masih berumur 15 tahun. Setelah memendam rasa kepada seseorang selama 3 tahun, akhirnya dia mengetahui perasaanku yang sesungguhnya. Walaupun aku belum pernah mengatakan bahwa aku suka dengan dia. Dia menolakku secara mentah-mentah, bisa kulihat dari gestur tubuh dan cara bicaranya kepadaku. Semua berubah drastis, yang awalnya humoris berubah menjadi sinis. Penolakan yang kualami tak bisa aku lupakan hingga sekarang. Perkataannya yang tajam membuat hatiku tak kuat untuk menahan. Hingga aku memutuskan untuk pergi jauh dari kehidupannya. Aku mulai menutup hatiku rapat-rapat. Menatanya seperti sediakala. Namun apalah daya, hati yang patah tak akan sama lagi seperti semula. Aku hanya bisa bersabar menjalankan prosesnya. Aku selalu berdoa agar sakit ini segera dilenyapkan. Semakin dilupakan rasa itu semakin meluap-luap. Setiap malam diiringi dengan kesunyian, rasa itu selalu datang. Membuat hatiku yang sudah tertata men...

Harapan

Gambar
  By : Isna Hamidah “Prang.....prang.....prang”             Marah. Bukan kemarahan yang menyebabkan keributan di kala masih pagi seperti sekarang ini, melainkan ulah kucing cantik yang tengah berlarian sehingga piring-piring yang tersusun rapi diatas rak berhamburan jatuh ke lantai. “Ya Allah, Jovan kucing kamu le. Piring oh piring”. Teriaknya ketika melihat piring-piringnya dilantai dan tak habis fikir dengan ulah si kucing. Seseorang datang dari balik kamarnya ketika mendengar namanya disebut. Dengan langkah gontai dengan mata yang masih melek merem tersebut menghampiri sumber suara tersebut. “Huahhhh, ada apa sih bu masih pagi teriak-teriak, kan kasihan tetangga kita terganggu tidurnya, eh maksudnya Jovan hehe” sarkasnya. Seseorag yang teriak-teriak yang dipanggil dengan sebutan ‘bu’ tersebut adalah bu Laras, ibunda Jovan Mahedra. “Ya gimana ibu ndak teriak wong kucingmu sudah bikin piring ibu pecah kayak gini” ger...

Rain and Hurts

Gambar
  By Anissa Nurul Farida Tussholikhah Semesta memang selalu seperti itu dalam mengatur takdir. Pertemuan, perpisahan, bahkan kematian. Kita tak akan pernah tau takdir apa yang telah digariskan untuk kita. Tapi percayalah, bahwa semua itu adalah pilihan terbaik untuk kita. Bukan untuk membuat kita membenci Tuhan, tapi untuk mendekatkan kita kepada Nya. Kurang lebih seperti itulah yang Rasya rasakan. Bertahan dari banyaknya luka yang sudah Tuhan berikan kepadanya. Rasya Vantika, gadis yang disaat usia enam tahun harus kehilangan sosok ayah yang sangat ia cintai. Sore itu, kala Rasya selesai mengantarkan ayahnya ke tempat peristirahatan terakhir, ia tak lagi kuat menginjakkan kaki di dalam rumahnya. Meskipun rumahnya saat itu dipenuhi oleh banyak orang yang melayat, namun bagi Rasya hanya kehampaan yang ia dapati di sana. Sesak rasanya saat mengingat tak ada sosok ayah yang kerapkali tersenyum kepadanya itu. “Sya, ayo masuk! Liat langitnya udah mendung, kamu mau kehujanan disini...